Baik AS maupun Iran melancarkan serangan dan mengeluarkan ancaman baru selama akhir pekan, menurut CNN.
Apa yang terjadi
Akhir pekan lalu, AS dan Iran saling melancarkan beberapa serangan, memperburuk gencatan senjata yang sudah rapuh. Sebuah gedung tempat tinggal di Bahrain mengalami kerusakan parah akibat serangan Iran, mengakibatkan korban termasuk seorang warga Qatar yang meninggal akibat serpihan, menurut Kementerian Dalam Negeri Qatar.
Pertukaran tembakan yang diperbarui dimulai pada 25 Juni, ketika Iran menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengutuk tindakan tersebut sebagai “pelanggaran bodoh” terhadap kesepakatan sebelumnya. Sebagai tanggapan, militer AS melakukan serangan terhadap target militer Iran.[1]
Mengapa ini penting
Escalasi antara AS dan Iran memiliki implikasi serius terhadap stabilitas regional dan pengiriman internasional di jalur air yang kritis. Tindakan militer yang meningkat mengancam pembicaraan yang sedang berlangsung mengenai nota kesepahaman AS-Iran dan berpotensi memperdalam permusuhan.[2]
Latar Belakang
Pada 20 Mei 2026, ketegangan meningkat ketika pasukan Iran mengancam jalur pengiriman di Selat Hormuz. Ini memuncak dalam pertukaran militer yang diperbarui yang dimulai pada 25 Juni, ketika Iran menargetkan kapal-kapal yang bersekutu dengan AS.[3]
Setelah serangkaian provokasi dari Iran, AS telah menunjukkan rencana untuk terus menegakkan tindakan terhadap infrastruktur militer Iran. Namun, pejabat AS melaporkan bahwa diskusi teknis mengenai nota kesepahaman tetap “sesuai rencana” per 29 Juni, di tengah kekerasan yang terus berlangsung.
Apa yang akan terjadi selanjutnya
Ke depan, pembicaraan teknis mengenai kesepakatan AS-Iran akan dilanjutkan, sementara pejabat AS tetap waspada terhadap ancaman lebih lanjut terhadap pengiriman di Selat Hormuz. Situasi tetap dinamis, dengan tindakan militer kemungkinan akan mempengaruhi diskusi di masa depan.

