Seorang warga negara Vietnam yang dideportasi ke Sudan Selatan oleh pemerintahan Trump kembali ke Vietnam pada hari Jumat setelah lebih dari setahun ditahan, menurut Associated Press. Tuan Phan, 44 tahun, dipulangkan setelah pengumuman dari Kementerian Luar Negeri Sudan Selatan.
Apa yang Terjadi
Tuan Phan adalah bagian dari kelompok delapan pria yang dideportasi ke Sudan Selatan pada Mei 2025. Mereka awalnya dialihkan ke pangkalan militer AS di Djibouti karena seorang hakim federal memblokir deportasi mereka di tengah penerbangan, mengutip ketidakteraturan prosedural. Menurut Kementerian Luar Negeri Sudan Selatan, Phan adalah “sangat disiplin, ceria, dan yang terpenting, ia tetap sehat” selama penahanannya.
Para pria tersebut, yang semuanya telah menjalani hukuman penjara di AS karena berbagai pelanggaran, tiba di Juba, Sudan Selatan, pada Juli 2025. Phan adalah individu kedua dari kelompok tersebut yang dipulangkan, setelah Jesus Munõz-Gutierrez, yang dikirim ke Meksiko pada bulan September. Satu-satunya warga negara Sudan Selatan dalam kelompok tersebut dibebaskan saat kedatangan.
Mengapa Ini Penting
Kasus ini menyoroti kompleksitas dan kekhawatiran etis seputar kebijakan deportasi AS, khususnya program deportasi negara ketiga yang kontroversial. Pemilihan Sudan Selatan sebagai negara penerima menimbulkan kekhawatiran hak asasi manusia tertentu karena catatan hak asasi manusia yang buruk dan ketidakstabilan politik yang terus berlanjut, berdampak pada baik deportasi maupun hubungan diplomatik.[1]
Latar Belakang
Pada 20 Mei 2025, delapan pria, termasuk Phan, awalnya dideportasi ke Sudan Selatan sebagai hasil dari kesepakatan pemerintah AS dengan beberapa negara Afrika untuk menerima deportasi non-warga negara. Pengaturan ini sering melibatkan kompensasi finansial dari pemerintah AS. Kondisi seputar deportasi ini, khususnya ke Sudan Selatan, telah menarik perhatian dari para advokat hak asasi manusia.[2]
Apa Selanjutnya
Saat ini, para pria yang tersisa dari kelompok Phan, termasuk individu dari Kuba, Myanmar, dan Laos, terus menunggu nasib mereka. Negosiasi yang sedang berlangsung mengenai perlakuan terhadap deportasi dan kondisi penahanan mereka di Sudan Selatan tetap sangat diawasi.

